Di post kali ini kita akan membahas kenapa menikah itu bukan solusi buat berhenti dari kebiasaan PMO yang melekat di diri.
Gw banyak banget baca komentar yang nyaranin dengan pede dan lantang:
“Makanya nikah bro, biar halal”.
Menurut ini gw ini bukan solusi, suatu eror dalam berpikir, yang nganggep dengan lo nikah, dengan lo masangin cincin yang berkekuatan legal di jari manis seorang wanita, maka problematika kecanduan PMO yang selama ini menjajah diri lo kelar.
Hell no!
Kita akan bahas 4 poin yang akan menyanggah persepsi kotor ini.
Gw berharap setelah lo kelar baca post ini, anggapan menikah sebagai solusi terjitu buat berhenti PMO enyah dari otak.
Karena ini sama sekali ga membantu,yang ada lo malah merugikan orang lain, yaitu istri lo.
1. Secara internal tetep rusak
Ini salah satu komen keren dari viewer di video terakhir gw tentang pengumuman rilisnya e-book berhenti PMO,
Gw setuju banget dengan kata-kata
“yang bisa membuat lu berubah cuman diri lu sendiri”.
PMO itu penyakit internal dan yang bisa nyembuhinnya ya dari internal juga.
Dengan lo nikah, lo kayak mencari suaka, mencari pertolongan dari pihak eksternal buat benerin kekacauan yang ada di internal.
Dan ini gak bakal works.
Perumpamannya begini.
Kamar kosan lo selalu berantakan, karena lo gak punya kesadaran diri akan betapa pentingnya kerapihan kamar buat menunjang mood dan juga produktivitas. Karena kamar lo kacau berantakan, kondisi jiwa lo terpengaruh, dan akibatnya hidup lo berantakan juga.
Seminggu sekali nyokap atau saudara lo mampir ngerapihin, Mereka adalah pihak eksternal. Tetep aja kamar lo akan berantakan terus seumur hidup kalo lo gak tobat-tobat juga, kalo dari lo-nya tetep gak punya kesadaran diri.
Begitupun kaitannya menikah yang dianggap solusi berhenti PMO. Solusi sementara dan sekejap mungkin iya, tapi lo tetep orang yang sama, orang yang rusak secara internal. Yang belum bisa mengontrol energi buas seksual yang bergejolak di dalem diri lo.
Kecuali lo berhasil mengatasi area ini dulu, lo bakal terus jadi slave bagi hawa nafsu seumur hidup.
2. Menikah bukan solusi berhenti PMO karena lo cuma ganti “alat pelampiasan”
Ini jahat menurut gw.
Ketika PMO lo gak melibatkan orang lain, modal yang lo butuhin ya paling koneksi internet, smartphone atau laptop buat mengakses film biru, tisu dan lotion buat… you know lah buat apa.
Lo gak merugikan orang lain tapi lo merugikan diri sendiri.
Sekarang dengan menikah, lo akhirnya punya partner lawan jenis, tapi balik lagi, secara internal lo tetep rusak, identitas lo tetep budak hawa nafsu. Nah jadinya sekarang yang kasihan siapa? Wanita yang baru aja lo pinang, istri lo.
Jadi mainan baru,
Jadi alat pelampiasan baru.
Terkesan jahat karena lo berlindung dibalik agama. Yes udah halal, tapi moral lo belum halal. Lo teteplah seorang pecandu dan sekarang sejak lo menikah akhirnya lo bisa menjustifikasi dengan mengatasnamakan agama, dan juga hukum.
Seorang cowok harus banget terbebas dulu dari budak hawa nafsu sebelum memperistri seorang wanita. Hubungan pernikahan bakal suram kalo lo belum bisa mengontrol part hawa nafsu ini.
Berpikirlah jangka panjang.
3. Berhenti PMO adalah tentang self control
Solusi berhenti PMO itu cuma satu, self control.
Darimana self control itu dateng? Dari pemahaman, dari pengetahuan yang tersimpan di kepala lo tentang kenapa PMO itu jahat, gimana PMO merusak hidup bahayanya bagi otak, pemicu., dll.
Harusnya ketika lo udah ngerasain betapa hebatnya dampak negatif secara langsung PMO terhadap hidup, kesadaran bahwa PMO adalah musuh dalam selimut ada.
Tapi masalahnya meski lo udah paham PMO jahat, lo tetep mengulang-ngulang lagi habit bejat ini. Berarti ada sesuatu yang belum tau, misalnya habit forming, hormon dopamin, elastisitas otak, neural pathway, yang mana hal-hal tersebut yang membuat PMO terulang lagi dan lagi.
Semakin lo tau, semakin mudah buat lo untuk mencapai level self control yang GG.
Sekarang dengan lo menikah, lo malah jadi makin ngerasa leluasa, karena udah ada yang asli, ditambah udah sah juga secara hukum dan dianjurkan secara agama, jadinya lo makin melunjak, makin menggila!
Banyak cerita pasutri dimana sang suami kecanduan pornografi dan PMO. Sebelum nikah pasti menanggapnya masalah kecanduan PMO berhenti usai menikah, tapi ternyata habit ini masih melekat.
Istri pun jadi sedih, dan kecewa.
4. Potensi lo jadi suami idaman redup
Gw belum punya pengalaman menikah jadi belum ada gambaran gimana respon istri gw ketika tau suaminya addict sama PMO. Tapi kalau boleh berimajinasi, membayangkan seandainya skenario tersebut terjadi, yang pasti pertama gw malu banget, value gw sebagai seorang suami turun, dan istri kecewa pastinya.
Mungkin secara luaran dia mau support bantu gw keluar dari lingkaran setan PMO ini, tapi jauh lubuk di dalem hatinya, pasti kecewa.
Dari aspek fungsionalitas lo sebagai seorang suami yang punya tanggung jawab besar memimpin keluarga pasti terganggu. Sekarang dengan lo jomblo atau berstatus pacaran, lo merasakan sendiri gimana PMO ngasih dampak negatif ke hidup.
Apalagi nanti, begitu lo udah jadi suami, jadi ayah, punya tanggung jawab yang lebih berat, keberadaan PMO udah kayak beban gak guna yang seharusnya gak pernah ada.