Untuk Berkembang, Lo Harus Menderita

Lo harus siap menderita kalo mau berkembang.

Ini hukum alam, realita yang suka gak suka harus lo terima, karena gak ada yang gratis di dunia ini, ada harga yang mesti lo bayarkan, sesuatu yang lo korbankan, supaya lo bisa grow sebagai individu. 

Semua orang pasti mau berkembang.

Tapi begitu tau kalo menderita adalah proses yang harus dilewati, mayoritas orang ciut dan mundur. 

Setelah itu ngeluh “kok hidup gw gini-gini aja ya, suram, blangsak banget“, padahal tiap hari kerjaannya depan layar mengonsumsi, mengonsumsi, dan mengonsumsi. 

Otaknya gak dikasih space buat mikir, buat merenung, buat mencari jalan keluar atas problem ketidakpuasan yang dialamin.

Inilah yang gw bilang bahaya dari kemajuan teknologi digital yang kita punya sekarang.

Kita jadi less manfaatin otak kita buat mikir, dan dari situ, nemuin jati diri kita. 

Kita dibombard sama miliaran informasi dan konten yang mindlessly lo scrolling di smartphone. 

Ketika dari pagi sampe siang lo non-stop scrolling sosmed, siang ke sorenya otak lo jadi soft banget gak mampu buat fokus, setengah jam aja.

Dopamine Baseline jadi Kacau Balau

Lo jadi lesu gak sanggup buat ngelakuin sesuatu yang challenging dan menguras mental. 

Kekacauan otak kaya gini bener-bener membunuh kesanggupan lo untuk menghadapi penderitaan.

Perumpamaan yang menurut gw sangat menggambarkan apa yang gw bilang tadi bahwa menderita untuk berkembang adalah hukum alam, yaitu sebuah benda yang dipake sama ksatria-ksatria zaman dulu buat menumpas musuh..

Pedang

Sekarang gini, supaya pedang bisa jadi tajem dan strong, pedang harus ditempa dulu. 

Pake palu yang sebesar bagong, dihantam berkali-kali, terus abis itu pedang juga perlu dibakar, dipanasin di tungku api yang super panas.

Terus dihantam lagi pake palu, masukin lagi ke api, proses menderita yang dialamin sama si pedang inilah yang bikin si pedang akhirnya jadi tajam, indah, dan mengkilau. 

Pressure atau tekananlah yang melahirkan sebuah pedang yang tajem. 

Begitupun kalo lo pengen punya otot di tubuh, istilahnya hipertrofi otot, dimana ketika lo ngelakuin olahraga angkat beban, yang ngepush banget tenaga lo sampe maksimal, jaringan-jaringan otot yang lo latih tersebut hancur. 

Tapi jaringan otot yang hancur tersebut akan regenerasi, lahir lagi jaringan-jaringan baru yang lebih strong, dan inilah yang kita sebut sebagai “otot”.

Seperti halnya tadi pedang dimana mesti dihantam dibakar dulu, tubuh lo pun mesti dipush dulu sampe rasanya pegel dan painful banget.

Lo harus membuat tubuh lo menderita dulu supaya akhirnya bisa punya otot.

Social Skill

Lo mungkin selama ini tenggelam dalam identitas introvert melekat di diri lo. Lo pengen bisa lebih luwes, lebih nyantai, lebih gak canggung, pas lagi interaksi sama orang lain in real life

Lo mungkin udah baca buku legendaris tentang social skill yaitu How To Win Friends and Influence People yang ditulis Dale Carniege.

Yes knowledge itu penting, tapi jauh lebih penting untuk taking action dan lo siap sama resiko menderita yang dibawanya. 

Lo harus sering-sering mengekspos diri di interaksi real-life.

Lo harus ngalamin penderitaan dulu mungkin karena awkward, ngelawak tapi gak lucu, cringe, canggung, semua itu harus lo alami karena serelah itu lo belajar, dan dari pelajaran yang lo dapetin inilah lo jadi berkembang.

The Hero’s Journey

Setiap karakter hero yang lo ikutin kisah ceritanya, entah dari film, novel, atau tv series, pasti ada momen atau chapter dimana sang hero tersebut ngalamin penderitaan hebat.

Setelah itu yang bersangkutan berhasil bangkit dari keterpurukan dan akhirnya ngalahin karakter yang jadi antagonis di cerita.

chart the hero's journey - joseph campbell

Kalo mengacu sama chart the hero’s journey yang dibikin sama Joseph Campbell, setelah ngalamin penderitaan hebat, sang hero dapet hidayah, bertransformasi jadi sosok yang secara quality lebih tinggi, seperti kata-katanya R.A. Kartini juga:

“Habis gelap terbitlah terang.”

Dari sini lo semakin yakin kalo penderitaan harus ada supaya seseorang bisa bertransformasi dan berkembang, walaupun prosesnya gak nyaman

“Selagi itu tidak membunuhmu, itu akan membuatmu jadi lebih kuat.”

Friedrich Nietzsche

Jadi, mulai dari sekarang, dimulai dari yang kecil dulu deh.

Pulang sekolah atau kerja lo punya banyak banget waktu free time. Kira-kira lo sanggup gak selama satu menit aja, push up non-stop tanpa henti?

Satu menit doang loh.

Satu menit penderitaan yang kalo rutin tiap hari lo lakuin, otot bahu sama dada lo bakal kebentuk, jadi lebih enak diliat, dan lo pun jadi pede. 

Sekarang bandingin sama kegiatan scrolling sosmed tanpa henti, gak ada penderitaan yang lo alami, gak ada pula growth yang lo dapetin. 

So, bertemanlah sama penderitaan.

Leave a Reply