Bahaya Sosial Media Bagi Kesehatan Mental

Di post ini kita akan bahas bahaya sosial media bagi kesehatan mental.

Sebelumnya, gw gak anti sosmed. Gw gak menentang kehadiran sosial media di hidup kita seolah-olah sengeri virus corona yang umat manusia harus hindari, demi keberlangsungan hidupnya. 

Sosial media adalah alat yang amazing, yang pada niat awalnya dibuat sama seorang nerd bernama Mark Zuckerberg, di kamar asramanya, buat bantu kita connect sama orang lain tanpa perlu khawatir lagi soal jarak.

Dari sisi bisnis, sosial media juga efektif buat ngejangkau customer, buat mempengaruhi orang supaya beli produk yang suatu brand tawarkan.

Gw pribadi pun pake sosmed, tapi sekedar sebagai alat buat menyampaikan pesan, yang gw pikir bakal ngebantu para cowok seumuran atau dibawah gw untuk ngembangin dirinya.

Sosial media sejatinya hanyalah alat, alat yang bisa lo pake untuk mencapai sesuatu. Yang menjadi bahaya adalah ketika lo kehilangan pemahaman akan “alat” ini dan akhirnya malah diperalat.

Di Indonesia, lebih banyak orang yang diperalat sama sosmed daripada ngeliatnya sebagai alat. 

Premis post kali ini adalah “bahaya sosial media bagi kesehatan mental”, dan gw akan ngebahas 5 fakta/realita yang menurut gw memperkuat premis tersebut. Kelimanya yaitu

  1. (Jadi anstiosial) karena interaksi real-life lebih sulit dibanding interaksi sosial media
  2. Kecanduan like, komen, atau dm
  3. Sosmed membuat lo jadi orang yang narsistik
  4. Sosmed membangkitkan perasaan iri dengki (envy)
  5. Sosmed menjauhkan yang dekat

5 Bahaya yang Diakibatkan Sosial Media bagi Kesehatan Mental

1. (Jadi antisosial) karena interaksi di real-life lebih sulit dibandingkan interaksi di sosial media

Orang yang anti-sosial pas ketemu orang dia grogi, nervous, gemetaran, bingung harus mulai obrolan dengan cara gimana, takut pas tatapan mata, ngeblank pas ditengah obrolan, dan gak ngerti cara menutup percakapan dengan sopan tanpa bikin lawan bicara tersinggung.

Dengan kehadiran sosial media, lo gak perlu lagi ngerasain ketidaknyamanan tersebut.

Gak perlu lagi mengatur ekspresi, intonasi suara, tatap mata, gak perlu lagi mikir buat nyari topik pembicaraan sesegera mungkin biar percakapan gak hening awkward, karena dengan chattingan di sosmed, effort paling gede ada di jari jempol lo buat ngetik, dan otak buat mikir.

Semakin lo sering ngabisin waktu interaksi sosmed, dimana sebenarnya lo punya alternatif buat interaksi di real-life, skill berekspresi lo sebagai manusia normal akan semakin gak terlatih.

Lo akan jadi semakin canggung, merasa gak nyaman, ketika terpaksa dihadepin sama interaksi real-life. 

2. Kecanduan like, komen, atau dm

Bahaya sosial media bagi kesehatan mental yang kedua ini berhubungan sama sensasi feeling good yang lo dapetin dari dopamin efek dari interaksi sosial sama manusia lainnya. 

Kenapa rasanya nikmat connect sama orang lain? Karena kita gak bisa hidup sendiri, karena dengan hidup berdampingan sama orang lain akan ningkatin chance kita buat survive. 

Dopamin ngasih reward feeling good disini karena bagus buat keberlangsungan hidup kita kedepannya.

Fitur like, komen, dm, mention, dari sosmed ngasih lo perasaan feeling good yang serupa seperti halnya lo dapet afirmasi atau pujian di real life.

Otak lo menganggap kebutuhan buat menjalin hubungan sama orang lain sudah terpenuhi, padahal yang asli dan yang jauh lebih penting adalah lo dapetin secara real-life.

Dapetin validasi di sosmed juga lebih gampang. Lo cukup ngepost foto diri lo dengan caption kata-kata bijak yang lo googling dulu supaya orang pada tau kalo lo orangnya pinter, dan boom, lo pun dapet ratusan like dan merasa jadi orang penting.

Otak lo ngeliat kejadian ini seolah-olah lo dapet validasi secara real-life, dan kedepannya lo tergerak buat ngelakuin hal yang sama buat memenuhi kebutuhan validasi, daripada nyamperin ngobrol sama orang in real life.

3. Sosmed membuat lo jadi orang yang narsistik

Narsisme atau pride itu dikategoriin sebagai dosa kalo mengacu sama ajaran setiap agama yang kita kenal. 

Entah itu islam, kristen, hindu, budha, semuanya satu suara terkait bahaya sifat egois yang ada di diri seorang manusia. 

Hadirnya sosial media sekarang makin mempermudah lo buat ngelakuin dosa yang satu ini. 

Lo jadi sangat concern peduli banget sama penilaian orang lain terhadap apa yang lo tampilin di sosmed. Lo jadi terlalu fokus sama diri sendiri dan lama-lama jadi punya obsesi yang gak sehat.

Kenapa seseorang bisa jadi antisosial itu karena yang bersangkutkan terlalu fokus ke dirinya sendiri, narsis, dia gak terlatih buat keluar dari dirinya sendiri untuk appreciate dengan cinta dan kasih sayang manusia lainnya.

Baru-baru ini gw baca bukunya Alan Watts yang berjudul The Wisdom of Insecurity, ada suatu ide keren yang menurut gw relevan sama poin tentang narsistik ini. Dia bilang (gw rephrase dalam kalimat yang mudah dimengerti):

“Semakin lo lupa sama diri sendiri, semakin lo bahagia. Semakin lo sadar sama diri sendiri, semakin lo menderita.” 

Banyak orang setelah berhenti main sosial media hidupnya lebih bahagia, gw pikir ini karena tanpa kehadiran sosmed mereka jadi jarang mikirin diri sendiri, 

Karena gak ada image yang perlu dijaga di dunia maya, akhirnya fokus mereka ke hal lain diluar diri, dan dari sini rasa bahagia itu dateng.

4. Sosmed membangkitkan perasaan iri dengki (envy)

Yang ini cukup lawak menurut gw. Udah jadi rahasia umum kalo sosmed kebanyakan dipake buat ajang pamer, tapi orang berusaha menutupi niat ini serapih mungkin dan menyembunyikannya atas nama “kebebasan berekspresi”. 

Contohnya hati lo jadi panas pas ngeliat postingan temen lo yang achieve sesuatu misalnya.

Lo komen di postingannya ngucapin selamat, keren, tapi di dalam lubuk hati, lo envy karena lo ngeliat dia sukses

Lo jadi kesel, bete, badmood, dan terburuknya bukannya termotivasi malah terdemotivasi karena meratapi betapa gak guna diri lo.

Gara-gara lo keseringan merendahkan value diri sendiri akibat terpancing postingan temen yang niat sebenarnya emang buat pamer, lo jadi penyendiri, insecure-an, dan akhirnya, ansos. 

5. Menjauhkan yang dekat

Ini yang paling miris menurut gw. Pemandangan dua orang duduk hadep-hadepan tapi keduanya sibuk sama hape masing-masing, bahkan gak mengobrol sama sekali sampe berjam-jam, itu everywhere.

Kadang gw kebetulan lewat dan terpampang sama apa yang lagi mereka liat di hape masing2, dan seperti yang udah lo tebak, mereka scrolling sosmed tanpa henti dengan ekspresi datar!

Pemandangan kaya gini bener-bener contoh paling sempurna buat menjawab pertanyaan bahaya sosial media bagi kesehatan mental.

Apakah ada sesuatu dari sosial media yang bikin otak lebih milih opsi scrolling sosmed daripada berusaha ngobrol sama sosok manusia didepannya

Yang pasti, dari ngeliat pemandangan ini semakin hari semakin sering, umat manusia menurut gw kedepannya akan jadi semakin antisosial

Bahaya Sosial Media Bagi Kesehatan Mental: Kesimpulan

Sosial media adalah pedang bermata dua. Bisa bermanfaat banget buat lo atau sebaliknya, menjadi malapetaka yang ngebikin lo jadi less human.

Sosial media sejatinya adalah tool, alat yang sebelum lo pake sebaiknya lo paham dulu keuntungan apa yang mau dicapai dari situ.

Ketika lo gak punya alesan kenapa harus main sosmed dan jadiin sosmed buat hiburan, sebaiknya lo hati-hati karena lo rawan kecanduan.

Dan kalo udah kecanduan, hidup lo dalam bahaya.

Leave a Reply