“Kamu adalah apa yang kamu makan.”
Dunia saat ini lagi ngalamin inflasi, inflasi manusia-manusia yang kelebihan berat badan.
Serius, kalo lo gak percaya sama statement gw barusan, lo pergi ke mall, di hari Sabtu atau Minggu, dan liat sendiri betapa banyaknya cowok berbadan gemuk.
Tentunya ada korelasi antara berat badan seorang cowok dan kenapa yang bersangkutan bisa ada di mall.
Yaitu karena jenis makanan yang ada di mall.
Yap, kita ngomongin tentang junk food atau fast food. Banyak yang bilang fast food jangan disamain sama junk food, fast food itu beda, bullsh*t, gw sih ngeliatnya sama aja.
Inimah akal-akalan doang dari perusahaan junk food untuk bersembunyi dibalik nama fast food, yang terdengar lebih sehat dan aman buat dikonsumsi masyarakat.
“Kamu adalah apa yang kamu makan”
Makanan terbukti secara ilmiah mempengaruhi banget mood, IQ, dan performa lo sebagai individu.
Lo adalah apa yang lo makan. Fisik lo adalah cerminan dari makanan yang masuk ke tubuh lo.
Balik lagi ke fenomena cowok gemuk yang berkeliaran di mall, bobot badan berlebih yang lo liat itu adalah cerminan dari makanan-makanan cepat saji di mall yang berlebih juga secara gula, garam, lemak, dan kalorinya.
Sekarang bandingkan sama cowok-cowok desa yang kesehariannya sering ngabisin waktu di hutan, kena sinar matahari, kalo jalan gak pake alas kaki, langka banget lo nemuin yang overweight.
Baca Juga: Gemuk Membuat Lo Jelek Sebagai Seorang Cowok
Ini karena cowok desa banyak gerak dan minim paparan makanan cepat saji atau olahan-olahan ta*k kucing.
Mereka makan makanan yang disediakan alam, yang natural dan gak overdosis dari kandungan gula, garam, dan lemaknya.
Hasilnya secara penampilan fisik, cowok desa lebih estetik, lebih enak diliat dibanding cowok kota yang gak menarik.
Junk food harus banget lo hindari sebisa mungkin. Dari namanya aja bahkan orang udah setuju karena berani ngasih label provokatif “junk”, yang artinya sampah, secara nutrisi rendah ,gak layak buat konsumsi manusia.
Tapi, kenapa masih banyak orang yang makan junk food? Karena 3 zat tadi: gula, garam, dan lemak.
Tiga zat adiktif yang diramu secanggih mungkin sama perusahaan-perusahaan makanan cepat saji supaya orang jadi kecanduan terus. Gak percaya?
Lo beli nugget ayam di salah satu restoran cepat saji, lo makan satu rasanya enak, terus lo pengen lagi, lagi, dan lagi.
Dibandingin makan wortel mentah, jelas lebih enak nugget, tapi wortel mentah dari sisi kemurnian nutrisi jauh ngalahin nugget!
Makanan yang langsung dari alam pasti selalu lebih menyehatkan dibandingin makanan olahan.
Makanan juga berpengaruh ke bentuk rahang yang lo punya.
Kita ambil contoh rahang strong yang dimiliki manusia purba versus rahang yang diselimuti lemak yang dimiliki manusia modern.
Zaman dulu belum ada teknologi blender, so nenek moyang kita harus mengunyah dengan susah payah entah itu daging, buah, atau biji-bijian, yang mereka dapetin dari alam liar.
Zaman sekarang semua dibikin serba soft biar gampang ditelen. Otot rahang lo lebih banyak nganggur jadinya.
Solusi dari gw buat lo yang mau ngerasain sensasi makan layaknya manusia purba, sekaligus ngelatih otot rahang: nyetok apel di rumah.
Makannya jangan dipotong-potong pake pisau, langsung gigit sama kulitnya, setelah dicuci pake air bersih dulu pastinya.