Marcus Aurelius: Ketika Kekaisaran Dipimpin Seorang Filsuf

Dua ribu tahun lalu, hidup seseorang yang sangat powerful. Marcus Aurelius adalah namanya.

Ia menduduki tahta tertinggi sebagai kaisar di suatu kekaisaran terkuat dunia pada masa itu – Kekaisaran Romawi Kuno. 

Yang wilayah kekuasaanya membentang dari Spanyol hingga Turki modern. Yang punya Legionnaire/pasukan tentara terkuat dan disegani oleh seluruh umat manusia pada saat itu. 

Ia terkenal bukan karena kecanggihannya dalam hal memimpin perang dan menaklukan wilayah musuh seperti yang dilakuin sama pendahulunya, Julius Caesar.

Tapi karena sifat humble-nya sebagai seorang pemimpin, karena filosofi Stoicism yang dianutnya.

Marcus Aurelius Bukan Penemu Filosofi Stoicism

Jaman sekarang kalo kita bicara tentang filosofi Stoicism, sosok Marcus Aurelius selalu menjadi pentolan dan banyak orang menganggap ia adalah penemu ajaran ini.

Faktanya, Stoicism sebenarnya adalah ideologi impor dari Yunani Kuno yang ditemukan oleh Zeno of Citium sekitar 400 tahun sebelum kelahiran Marcus Aurelius. 

Bersama dengan para tokoh intelektual kuno lainnya seperti Seneca, Rufus, Epictetus, Marcus Aurelius turut melestarikan ajaran kuno ini dan membuat kita yang hidup sekarang bisa belajar dan dapet manfaat luar biasa.

Apa Pengertian Filosofi Stoicism?

Pemahaman tentang filosofi Stoicism gue peroleh dari dua teks kuno terbaik tentang topik ini: 

  • Meditations yang ditulis Marcus Aurelius, dan
  • Letters From A Stoic yang ditulis Lucius Seneca

Dari mengonsumsi dua teks kuno tersebut, kalau lo minta dijelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami tentang pengertian filosofi Stoicism, gue akan menjelaskannya pakai analogi agar lo lebih mudah memahaminya.

Sekarang pejamin kedua mata lo dan bayangin pemandangan pantai dengan ombak-ombak besar, angin kencang, disertai hujan petir badai.

Di pinggiran pantai tersebut yang mengarah ke laut, berdiri sebuah batu yang gak terlalu besar tapi kokoh. 

Meski ombak menghantam berkali-kali disertai angin kencang dan hujan petir badai, itu batu gak tergoyahkan sama sekali. 

Tetap pada posisinya. Berdiri gagah. 

Ketika suasana tenang, ombak kecil, cuaca cerah, tanpa hujan, batu tersebut pun tetap sama posisinya sepertinya halnya cuaca ekstrim melanda. 

Menjadi seorang Stoic adalah seperti menjadi batu di pantai tersebut.

Menjadi seorang Stoic adalah tentang bagaimana lo gak membiarkan peristiwa eksternal mempengaruhi internal lo. 

Di dunia ini hanya ada dua hal, hal yang bisa lo kontrol. Dan hal yang mustahil lo kontrol. 

Menjadi seorang stoic artinya fokus sepenuhnya ke hal yang lo bisa kontrol dan gak memberi label “negatif” atau “positif” ke hal yang lo gak bisa kontrol. 

Pelabelan positif dan negatif inilah yang mengelabui diri lo menganggap sesuatu yang gak bisa lo kontrol itu seolah-olah identitas diri lo.

Marcus Aurelius adalah Guru Stoicism Bagi Kita

Di artikel ini kita akan belajar dari sang kaisar Marcus Aurelius sendiri, yang mana kontemplasinya tentang filosofi Stoicism ia curahkan di jurnal pribadinya yang setelahnya tanpa sepengetahuan (dan persetujuannya), jurnal tersebut dipublikasikan untuk konsumsi massal dengan judul: Meditations.

Jadi dari awal, Marcus Aurelius sama sekali gak berminat untuk jadi penulis terkenal. 

Jurnal yang ia tulis murni sekedar renungan pribadi agar ia bisa menjadi pemimpin yang lebih baik bagi rakyat Romawi Kuno pada masanya.

1. Selalu ingat kalau lo bakal mati

Dari 2 penulis teks kuno tentang filosofi Stoicism yang gue pelajari, Marcus Aurelius dan Lucius Seneca, gue menemukan suatu kesamaan kuat.

Mereka berdua, sering banget mengingatkan tentang kefanaan seorang manusia. Marcus Aurelius bilang:

“Jangan menjalani hidup seolah-olah kamu memiliki banyak waktu. Kematian membayangimu. Selama kamu masih hidup dan mampu—jadilah orang yang baik.

Agak mengerikan pastinya kalau disuruh bayangin kematian. 

Tapi satu karakteristik inilah yang jadi faktor pembeda antara seorang Stoic dan cuma mengaku-ngaku – yaitu dari cara pandangnya terhadap kematian. 

Maksudnya disini bukan untuk bilang kita manusia adalah makhluk yang menyedihkan karena nanti akan mati dan membusuk di dalam tanah.

Marcus Aurelius cuma mau bilang kalau waktu adalah fana dan lo sebaiknya memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk melakukan kebaikan.

Seorang Stoic melihat kematian sekedar proses alamiah yang sepenuhnya normal, yang diperlukan oleh alam demi kepentingan dan kebaikan bersama. 

Steve Jobs juga pernah bilang:

“Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah alat paling penting yang pernah saya temui untuk membantu saya membuat pilihan besar dalam hidup. Hampir semuanya—semua ekspektasi eksternal, semua kebanggaan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan—hal-hal tersebut jadi tidak penting saat menghadapi kematian, apa yang benar-benar penting barulah kelihatan.”

2. Memahami Kalau Pujian Itu Gak Penting

Ngomongin dari sudut pandang evolusioner, manusia butuh validasi atau afirmasi positif dari manusia lainnya untuk bertahan hidup. 

Dulu di zaman nomaden, alam sangat kejam dan manusia pra-sejarah harus hidup berkelompok agar bisa bertahan hidup. Untuk masuk ke dalam suatu kelompok, manusia harus diakui dulu (validasi) supaya bisa gabung. 

Zaman sekarang dimana kita telah mengucapkan selamat tinggal ke gaya hidup primordial, dimana validasi perannya sudah tak se-esensial dulu, dalam kaitannya demi kepentingan survival spesies, muncul fenomena sosial kecanduan validasi dengan tujuan memuaskan ego pribadi.

Lagi-lagi karena menjadi seorang stoic adalah memfokuskan diri ke hal yang bisa lo kontrol, pujian, afirmasi, atau validasi, adalah sesuatu yang gak bisa lo kontrol dan oleh karenanya, bukanlah identitas diri lo.

Pujian adalah “senyawa” eksternal yang berusaha masuk dan mempengaruhi internal lo.

Keputusannya ada di lo mau menerimanya sebagai identitas, atau melihatnya sebagai sekedar hadiah sementara dan mensyukurinya.

Identitas diri lo sebelum dan sesudah menerima pujian gak ada bedanya.

Marcus Aurelius adalah kaisar di kekaisaran terkuat planet bumi pada masa itu, uudah pasti disanjung-sanjung setiap saat. Tapi ia menyadari kalau pujian itu fana.

“Hal-hal yang indah apa pun itu berasal dalam dirinya sendiri dan cukup untuk dirinya sendiri. Pujian itu peristiwa eksternal. Objek yang dipuji tetap bagaimana adanya—tidak menjadi lebih baik dan tidak menjadi lebih buruk. Apakah sesuatu yang sudah indah dari bawaannya perlu tambahan dari luar supaya lebih menjadi indah lagi? Apakah batu zamrud tiba-tiba jadi jelek jika tidak ada yang mengaguminya?”

3. Kebal dari Kritik

Ini adalah salah satu problem utama cowok zaman sekarang, yaitu sebisa mungkin menghindari cap negatif dari orang lain. 

Ketakutan akan kritik orang lain membuat lo jadi people pleaser.

Sebisa mungkin lo berusaha menghindari konflik, dan hidup menyedihkan karena dikontrol sama apa yang keluar dari mulut orang lain. 

Udah banyak kasus orang depresi bahkan sampai bunuh diri gara-gara opini yang keluar dari mulut orang lain. 

Ini akibat mereka mengizinkan kritik masuk dan menyerap ke dalam diri dan menjadikannya identitas.

Menurut Marcus Aurelius, sama halnya dengan pujian, opini negatif dari orang lain adalah peristiwa eksternal yang gak akan pernah mampu mengubah jati diri lo kecuali lo memperbolehkannya.

marcus aurelius dan rakyatnya

Mari kita dengar apa yang dia bilang soal kritik:

“Apa yang terjadi dalam pikiran orang lain tidak akan bisa membahayakan kamu. Begitu pula perubahan di dunia sekitar juga tidak bisa. —Lalu dari mana rasa sakit itu berasal? Dari cara kamu melihatnya. Kalau kamu berpikir semuanya baik-baik saja maka semuanya akan baik-baik saja. Tetaplah tenang jangan melihat sesuatu sebagai hal yang bisa menyakiti kamu bahkan meski tubuhmu ditusuk atau dibakar, atau berbau nanah, atau sakit kanker. Perlu kamu sadari bahwa kejadian yang menimpa setiap orang — buruk dan baik — bukanlah baik atau buruk.”

4. Marcus Aurelius Mengajarkan Kita untuk Hidup Sesuai Fitrah/Kodrat

Apa itu “fitrah”? Fitrah berasal dari bahasa arab yang artinya “suci” atau “murni”. Atau dalam bahasa inggris “nature”. 

Maksudnya disini adalah bagaimana lo berperilaku dan bertindak harus selalu berakar dari naluri alamiah lo sebagai seorang manusia. 

Contoh katakanlah lo itu orangnya introvert dan lebih suka melakukan aktivitas solo dibandingkan party-party atau nongkrong haha-hihi sama temen. 

Dunia akan berusaha bilang ke lo bahwa “Extrovert itu keren, introvert sebaliknya”. 

Pilihannya ada dua disini, pertama, lo termakan oleh opini massal yang bilang kalo party-party itu keren, lalu merasa tertekan dan stres dan merasa harus coba party-party demi afirmasi positif dari opini masal, walau jauh di lubuk hati lo sama sekali gak suka party. 

Pilihan kedua adalah menganggap opini massal tentang “party keren” tersebut sebagai gonggongan anjing belaka dimana lo sama sekali gak terusik.

Lo gak peduli tentang “terlihat keren” karena yang paling penting buat lo adalah kepuasan intrinsik yang lo peroleh dari melakukan aktivitas solo yang selama ini memang lo suka.

Ini adalah yang Marcus Aurelius bilang tentang pentingnya hidup sesuai fitrah kita:

“Jangan terpengaruh oleh komentar dan kritik orang lain. Jika kamu merasa perlu untuk mengatakan atau melakukan sesuatu, maka katakan atau lakukanlah. Biarlah orang lain mengikuti insting mereka sendiri, mengikuti dorongan hati mereka sendiri. Jangan terdistraksi. Terus berjalan. Ikuti fitrahmu sendiri, dan ikuti kehendak alam.”

Leave a Reply