Viktor Frankl berkata:
“Segalanya bisa diambil dari seorang pria kecuali satu hal: kebebasan terakhir seorang manusia – untuk memilih sikap dalam keadaan apapun, untuk memilih jalannya sendiri.”
Apakah lo merasa hidup lo itu menderita banget?
Padahal lo sudah melakukan yang terbaik, sudah sabar menunggu, tapi realita tetap kejam masih menolak menuruti ekspektasi lo.
Lo pun jadi bingung, frustasi, hopeless, dan yang terburuknya, kehilangan motivasi dan memutuskan menyerah untuk keep moving forward.
Karena frustasi lo akhirnya playing victim, jadi orang yang negatif merasa sudah paham banget arti penderitaan, tapi sebenarnya lo salah tangkap dalam memaknainya.
Lo harus belajar dari sosok pria inspirational yang satu ini.
Yang mana penderitaannya kalo dibandingkan sama lo gak ada apa-apanya. Dia sudah melalui penderitaan level ekstrim yang super berat, dan menemukan makna dari situ. Dimana kita semua bisa belajar dari penemuannya.
Perkenalkan, Viktor Frankl
Viktor Frankl adalah seorang psikiater Austria-Yahudi yang jadi korban persekusi Nazi Jerman dibawah Adolf Hitler, yang saat itu berusaha menguasai Eropa pada periode perang dunia ke 2 (1939-1945).
Keluarganya, ibu dan abangnya di gas beracun, istrinya meninggal juga karena sakit tipes ketika ditahan di kamp konsentrasi yang terpisah darinya.
Manuskrip hasil riset bertahun-tahun yang dengan susah payah dia kerjakan disita dan dimusnahkan.
Frankl pindah-pindah dari kamp konsentrasi satu ke kamp konsentrasi lainnya (Theresienstadt, Auschwitz, Kaufering III, dan Türkheim). Jadi budak melakukan kerja paksa kaya kuli tanpa bayaran sama sekali kecuali makanan yang bahkan kualitas levelnya dari segi nutrisi jauh dibawah level makanan penjara.

Mungkin bagi orang-orang Yahudi seperti Viktor Frankl ini, hidup di bawah kontrol Nazi Jerman itu mirip kayak para simpatisan PKI setelah peristiwa G-30S. Diburu, dimanfaatkan dulu untuk kerja paksa, kalo sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, dimusnahkan
Terlepas dari kondisi ekstrim yang dia alami selama kurang lebih tiga tahun di kamp konsentrasi Nazi yang terkenal sangat sadis dan tidak manusiawi, Viktor Frankl berhasil survive.
Setelah bebas, dia menulis dan menerbitkan buku dengan judul Man’s Search for Meaning yang menceritakan kisah penderitaan luar biasanya dan pengamatannya selama tinggal di kamp konsentrasi.
Apa yang Membuat Viktor Frankl Berhasil Survive?
Karena dirinya berhasil menemukan makna dalam penderitaan.
Pandangan dia terhadap penderitaan berbeda dengan rekan-rekannya yang juga mengalami hal yang sama. Dia bilang kayak gini:
“Saya memahami bagaimana seorang pria yang sudah kehilangan segalanya masih mampu merasakan bahagia, walaupun cuma sekejap, saat memikirkan seseorang yang disayang. Dalam posisi kehancuran total, ketika seseorang tidak dapat mengekspresikan dirinya dalam tindakan positif, ketika satu-satunya pencapaiannya hanyalah dengan menanggung penderitaannya dengan cara yang benar – dengan cara yang terhormat – di posisi ini seorang pria bisa, melalui perenungan penuh kasih terhadap seseorang yang dia sayang, merasakan kebahagiaan.”
Kalau lo belum menangkap maksudnya, dia bilang lo tetap bisa merasakan yang namanya bahagia dalam kondisi tekanan level ekstrim sekalipun.
Rasa bahagia itu datang dari kebanggaan karena lo mampu menahan beban yang maha berat. Dan di kondisi ini lo yakin sesuatu yang indah menunggu di depan.
Dalam kasus Viktor Frankl, sesuatu yang membantu dia untuk tetap survive adalah manuskripnya. Dia masih merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan manuskripnya tersebut.
Juga renungan indah reuni dengan istri dan keluarga tercinta membuatnya tetap bertahan hidup.
Friedrich Nietzsche pernah bilang:
“Dia yang punya ‘why’ untuk hidup mampu menanggung segala ‘how'”
Mengamati Tahanan Lainnya

Selain dirinya sendiri, Viktor Frankl juga mengamati rekannya yang berhasil bertahan hidup dan yang tidak, dalam kalimatnya sendiri dia bercerita seperti ini:
“Saya pernah mengalami kejadian dramatis tentang hubungan erat antara hilangnya optimisme akan masa depan dengan menyerah untuk bertahan hidup. Ketika F_____ bercerita tentang mimpinya, dia penuh harapan dan sangat optimis bahwa hari pembebasan akan tiba. Tetapi ketika hari yang dijanjikan semakin dekat, berita perang yang sampai ke kamp kami membuat kami menyimpulkan hari pembebasan yang seperti diimpikan F_____ tidak akan datang. Tanggal 29 Maret, F_____ tiba-tiba jatuh sakit dan mengalami demam tinggi. Tanggal 30 Maret dimana di mimpinya ini merupakan hari pembebasan, dia mengigau hebat dan kehilangan kesadaran. Tanggal 31 Maret, dia meninggal.”
Ketika seorang tahanan optimis bahwasanya hari pembebasan pasti akan tiba, tubuhnya merespon secara positif juga dan dia jadi sehat wa’al fiat.
Namun ketika prediksinya itu meleset, si tahanan tersebut menjadi hilang harapan, sakit, lalu meninggal.
Kebebasan Terakhir Seorang Manusia
Kadang kita merasa seperti tidak punya opsi, terutama saat di kondisi sulit, tapi sebenarnya kita selalu punya opsi.
Viktor Frank juga mengamati, rekan-rekan lainnya yang berhasil bertahan hidup adalah mereka yang paham kalau mereka masih punya yang dalam istilahnya sendiri – the last of the human freedoms.
“Meskipun kondisi seperti kurang tidur, makanan yang sedikit, dan berbagai tekanan mental membuat tahanan terbiasa dengan reaksi tertentu, analisis akhir menunjukkan bagaimana seorang tahanan bertindak adalah hasil keputusan intrinsiknya, bukan pengaruh lingkungan kamp saja. Oleh karena itu, pada dasarnya, siapa pun dapat memutuskan apa yang akan terjadi padanya secara mental dan spiritual. Dia mungkin mampu mempertahankan martabat dan harga dirinya bahkan di situasi ekstrim seperti di kamp konsentrasi.”
Kalau di kondisi kita, hal-hal yang bikin kita hilang harapan mungkin seperti: ditinggal cewek, di phk, bisnis bangkrut, jatuh miskin, dikhianati teman, dan respon alamiah kita ketika berhadapan sama situasi tersebut sudah pasti stressdan kita merasa seperti tidak punya punya kontrol.
Viktor Frankl berusaha bilang ke lo disini bahwa seburuk apapun keadaan yang menimpa lo, lo selalu tetap punya opsi, opsi yang sama sekali tidak bisa dikontrol, bahkan oleh opresor hebat kayak tentara Nazi, yaitu opsi untuk bagaimana lo merespon keadaan.
Ego adalah Musuh
Alasan kenapa mayoritas orang playing victim ketika berhadapan sama situasi yang berat adalah karena ego. Dan ego dalam diri lo muncul karena bagaimana pandangan lo terhadap diri lo dengan hidup.
Ada dua jenis orang
- Pertama, yang beranggapan kalau hidup harus melayani dan mendengarkan kemauan dia.
- Dan yang kedua adalah yang beranggapan kalau dialah yang harus merespon dan melayani kemauan hidup.
Sudah bisa lo tebak yang tadi gue sebutkan pertama adalah kategori orang egois atau selfish.
Yang kedua adalah yang menurut Viktor Frankl tipikal individu yang berhasil bertahan hidup dari kejamnya kamp konsentrasi.
“Yang paling dibutuhkan adalah perubahan fundamental dalam sikap kita terhadap hidup. Kita harus belajar dan mengajari pria-pria yang putus asa, bahwa yang terpenting bukanlah apa yang dia harapkan dari hidup, melainkan apa yang hidup harapkan dari dia. Kita harus berhenti bertanya tentang apa arti hidup, tapi sebaliknya, yaitu menganggap diri kita sebagai orang yang melayani hidup – setiap hari dan setiap jam.”
Self Transcendence: Cara Menjadi Manusia yang Sesungguhnya

Pada akhirnya, ego adalah musuh terbesar buat lo yang ingin bertahan hidup dalam kondisi ekstrim. Ego bikin lo terlalu fokus sama diri lo sendiri, menghalangi lo untuk melihat sesuatu yang lebih besar diatas diri lu.
Lo melihat penderitaan sebagai punishment dari alam, bukan sebagai kesempatan untuk membuat lu lebih grow lagi secara mental dan spiritual.
Setelah perang dunia kedua berakhir, Viktor Frankl menyempurnakan teori Logotherapy yang sebenarnya dia sudah mulai kerjakan sebelum perang dunia ke 2 berkecamuk. Premis dari teori Logoteraphy ini adalah “ultimate goal dari setiap manusia adalah menemukan makna hidup“.
Menurutnya, makna hidup baru akan lo temukan ketika lo berhasil mengesampingkan ego atau dalam istilah yang Viktor Frankl tentuin sendiri,
“The Self Transcendence of Human Existence”
“Semakin seseorang melupakan dirinya sendiri – dengan menyerahkan dirinya ke sesuatu yang lebih besar seperti melayani atau mencintai orang lain – semakin manusia dia dan semakin dia mengaktualisasikan dirinya. Apa yang disebut sebagai self-actualization adalah keliru, semakin seseorang berusaha untuk itu, semakin dia akan kehilangan. Dengan kata lain, self-actualization sebenarnya merupakan efek samping dari self-transcendence.”