“Pria di Arena” atau “The Man in Arena” merupakan potongan paling berkesan dari pidato terkenal Presiden Amerika Serikat ke-26 Theodore Roosevelt yang berjudul Citizenship in a Republic.
Di pidato tersebut, Roosevelt menjelaskan filosofi hidupnya sebagai seorang pria. “Pria di Arena” ngasih tau kita bahwa pria yang harus kita puji adalah pria yang hidupnya keras tapi terus berjuang.
Di zaman ini, ketika sikap egoisme/narsistik dianggap keren, Roosevelt mengingatkan kita bahwa yang keren adalah pria “yang mendedikasikan hidupnya untuk tujuan yang mulia”.
Skrip Pidato
“Cara termiskin menjalani hidup adalah menjalaninya dengan sinis. Banyak pria merasa bangga dengan tindakan sinisme. Mereka membatasi diri dengan mengkritik apa yang pria lain berani lakukan yang mana mereka takut mencobanya sendiri. Tidak ada makhluk yang paling menyedihkan, yang tidak pantas untuk dihormati, dibandingkan dia yang bermulut besar, yang selalu menunjukan sikap skeptis dan sinis terhadap mimpi yang besar dan tinggi. Kebiasan sinis, yang tertuang dalam ucapan dan pemikiran, paling semangat ketika mengkritik sesuatu yang bahkan tidak pernah dilakukan oleh pengkritiknya sendiri, adalah tanda kelemahan, bukanlah kekuatan seperti yang dipikiran si pengkritik. Mereka memuji pria-pria lemah, yang menolak berpartisipasi secara serius dalam perjuangan hidup yang keras, dan menolak menghormati pencapaian pria hebat, demi bersembunyi dari kelemahan diri sendiri. Ini peran yang mudah dilakukan, tidak ada yang lebih mudah, kecuali peran pria yang kerjanya hanya mengkritik dan bermulut besar. Hidup bukan milik pengkritik. Bukan milik dia yang senang mencari kelemahan pria hebat, dan dengan sombongnya menggurui bagaimana pria tersebut seharusnya bisa melakukannya lebih baik. Hidup adalah milik pria yang hidup di arena, yang wajahnya diterpa oleh debu, keringat, dan darah. Yang berjuang dengan gagah berani, yang melakukan kesalahan, yang maju terus pantang menyerah, karena tiada usaha tanpa kesalahan dan kekurangan, yang sungguh-sungguh berusaha untuk melaksanakan tugas. Yang memiliki antusiasme besar, pengabdian yang besar, yang mendedikasikan hidupnya untuk tujuan yang mulia. Yang paham pada akhirnya kemenangan dan pencapaian tinggi menanti di akhir, dan dia paham juga, jika gagal, setidaknya dia gagal dengan sangat berani. Sehingga tempatnya tidak akan pernah bersama jiwa-jiwa pengkritik yang pemalu dan penakut, yang tidak mengenal arti dari kemenangan maupun kekalahan.”
-Theodore Roosevelt