Sebuah pernyataan yang terdengar provokatif pernah diungkapin seseorang yang bekerja di dalam industri film dewasa selama tiga tahun.
Dia bilang bahwa paparan konten tersebut secara terus-menerus berisiko mengubah orientasi ketertarikan seorang pria.
Sisi gelap dari kebiasaan ini terletak pada penurunan kepekaan otak akibat toleransi dopamin yang meningkat drastis.
Akibatnya, tipe konten yang biasa ditonton tidak lagi mampu memberikan rangsangan atau kepuasan yang sama seperti sebelumnya.
Kondisi ini memaksa seseorang untuk “naik level” dan mencari dosis yang lebih ekstrem demi mendapatkan sensasi serupa.
Pola ini bekerja persis seperti kebiasaan mengonsumsi kopi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada awalnya, satu cangkir kopi sudah cukup untuk membuat mata melek dan melepas rasa kantuk.
Namun, seiring berjalannya waktu, otak akan membangun toleransi sehingga kadar kafein yang sama tidak lagi mempan memberikan efek yang diharapkan.
Jika siklus peningkatan dosis ini terus dibiarkan, otak pada akhirnya akan terjebak dalam jalur kepuasan semu yang semakin sulit dihentikan.