Gen Z, generasi yang bikin geleng-geleng kepala generasi-generasi pendahulunya, milenial, x, baby boomers, karena kelakuan gen z yang dari banyak testimoni, lembek dan manja.
Gw sebagai perwakilan gen z angkatan tertua, yang lahir di tahun 96, setuju sebenarnya sama apa yang para senior kita keluhin terkait perwatakan kita yang ga se-ambis dan se-gigih generasi pendahulu.
Di post ini kita fokus mencari tahu penyebab lemahnya cowok gen z.
Gw ngerasa berhak ngomong ini karena gw sendiri adalah seorang gen z, ditambah dari pengalaman selama ini tumbuh besar, terpapar sama apa yang dunia modern sajikan, gw jadi mengerti kenapa kita ini generasi cowok yang tersesat.
Kemajuan teknologi mainin peran besar
Ada suatu kutipan keren yang menurut gw mengambarkan banget fenomena lemahnya generasi cowok gen z.
“Hard times create strong men. Strong men create good times. Good times create weak men. Weak men create hard times”.
G. Michael Hopf.
Kita lagi ada di era “good times create weak men”.
Segala kemudahan hidup, internet, sosial media, video game, fast food, transportasi, dating app, membuat kita jadi lebih less effort.
Otot kalo lama gak dilatih akan mengalami atrofi (penyusutan).
Begitupun diri kita dimana ketika kita gak pernah terekspos struggle dan pain, maka kita jadi lemah, karena kita gak pernah melatih mental dan fisik kita menghadapi situasi chaos tersebut.
Gw kasih contoh biar lebih gampang memahaminya.
Sosial Media
Sosial media sekarang lagi hype banget. Lo jadinya gak perlu effort buat keluar, ketemu orang, interaksi secara real life.
Cukup rebahan aja di kasur ngelike postingan temen dan komen. Dengan ngelakuin ini, lo ngerasa kebutuhan buat bersosialiasi udah terpenuhi, padahal gak sama sekali.
Sosial media men-trick otak
Ini penyebab kenapa kita masih ngerasa kesepian walaupun aktif banget di sosmed.
Karena gak ada yang bisa mengalahkan betapa nikmatnya interaksi secara real life sama orang lain.
Sosmed membuat lo jadi pasif, jadi males buat effort cari temen baru di real life, karena alternatif yang lebih easy to do adalah klik follow orang yang pengen lo temenan samanya.
Itu tadi dari sosmed, contoh kedua..
P*rnografi
Kutuhan reproduksi itu esensial banget bagi kita kaum cowok.
Kemajuan gokil internet dimana sekarang lo udah bisa streaming 4k tanpa ngelag, adalah pedang bermata dua.
Di satu sisi bagus karena artinya kita berprogress sebagai umat manusia.
Di satu sisi berpotensi disalahgunakan sama cowok-cowok mesum buat muasin kebutuhan hawa nafsunya tersebut.
Zaman dulu karena gak ada akses internet dan p*rn unlimited 24 jam, lo harus effort, keluar rumah, ketemu cewek, ngobrol dll, sampai akhirnya bisa melakukan “itu”.
Sekarang lo gak perlu ngelakuin itu semua, tinggal jari lo yang bekerja apa yang pengen lo dapetin pun tercapai. Tapi sayangnya ini palsu, menipu otak seolah-olah real.
Video Game
Main game juga menipu otak seolah-olah lo ber-progress ngelakuin sesuatu yang penting.
Gw gak menentang sama sekali kegiatan ngegame, karena masa kecil dan remaja gw penuh sama video game.
Gw ngerti betapa serunya making progress di karakter yang dimainin.
Tapi gw sekarang sadar, waktu yang gw habiskan buat level-up karakter di game harusnya bisa buat level-up diri gw sendiri.
Ini karena belajar skill di game itu lebih mudah dan fun dibandingkan belajar skill di real life yang lebih hard dan painful.
Kesimpulan
Alasan cowok gen z lemah dan kurang ambisis adalah karena kita diberkahi opsi yang lebih mudah buat melakukan hal yang sebelumnya butuh effort dan perjuangan.
Good times create weak men.
Semakin modern dan nyaman dunia buat ditinggali, semakin pasif dan konsumtif diri kita.
Saatnya kita sadar dan jangan terlalu termakan sama tipu daya dunia modern.