Kita akan membahas Rocky Balboa, tokoh fiktif dari film klasik berjudul Rocky, yang rilis tahun 1976.
Menurut gw, film Rocky wajib tonton minimal sekali seumur hidup, terutama buat lo yang peduli sama pengembangan diri dan ingin jadi cowok yang yang lebih baik lagi di kehidupan.
Di post ini gw akan coba membedah 3 traits/watak seorang Rocky Balboa, yang menurut gw membuat tokoh layak jadi panutan setiap cowok.
Siapa Rocky Balboa?
Rocky Balboa di awal cerita diperkenalkan sebagai sosok petinju kelas lokal, gak terkenal, gak begitu berbakat, tinggal di daerah kumuh, sulit secara ekonomi, yang berkesempatan tanding sama juara dunia kelas berat, Apollo Creed.
Duel ini sebenarnya awalnya di desain untuk hiburan belaka. Tapi Rocky engggan melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini dengan cuma-cuma.
Rocky melakukan persiapan layaknya mau duel betulan dengan misi mengambil alih sabuk juara dunia kelas berat yang dipegang Apollo Creed.
Hasilnya seperti Persikabo lawan Real Madrid, hanya saja tim Madrid keteteran gak menduga tim Persikabo kasih perlawanan super sengit.
Duel yang pada awalnya di desain sebagai pertandingan hiburan pun berakhir mirip El-Clasico.
Rocky Balboa: Kisah Seorang Underdog
Kisah Rocky Balboa ini adalah kisah seorang underdog, seseorang yang pada awalnya diremehkan tapi berkat kegigihan, keberanian, kerja keras, dan disiplin, ia berhasil membuktikan dirinya mampu melakukan hal yang mayoritas orang pikir mustahil diakukan.
Pada akhirnya Rocky memang kalah dari Apollo, tapi kalah disini gak penting. Yang terpenting yaitu bagaimana Rocky mempertontonkan kualitas seorang pria pekerja keras, melakukan hal diatas kapasitas dirinya, dan buah dedikasinya yaitu perlawan sengit indah yang nggak gak diduga-duga siapapun.
Kisah Rocky adalah contoh sempurna dari frasa latin terkenal Carpe Diem, yang artinya seize the day, manfaatkan waktu semaksimal mungkin selagi ada kesempatan.
Nah jadi, apa saja 3 karakteristik seorang Rocky Balboa sehingga dirinya bisa membuktikan sebagai underdog tangguh?
1. Keberanian
Awalnya ia ragu, pesimis. Bayangkan, Rocky bukan siapa-siapa, cuma petinju kelas lokal, mediocre.
Resiko terburuknya ia bakal dipertontonkan seperti badut saat dihantam Apollo Creed di atas ring nanti.
Tapi Rocky berani dan siap menerima risiko ini. Baginya yang terpenting terima saja dulu. Kesempatan sekali seumur hidup. Carpe Diem.
Dalam kehidupan, sering banget otak iblis lo menghasut agar lo mengurungkan niat untuk melakukan hal yang lo rasa menyeramkan, tapi lo paham itu sangat penting buat growth lo sebagai seorang cowok.
Mulai sekarang stop mendengarkan otak setan lo itu!
Ada pepatah bilang:
“Apapun yang lo merasa takut ketika hendak melakukannya, lo wajib melakukannya nya karena disitulah proses penempaan mental terjadi”.
2. Kerja Keras
Setelah menerima tantangan duel dengan Apollo Creed, sebenarnya Rocky bisa saja memilih untuk santai tak perlu dibawa serius toh ini cuma pertandingan hiburan.
Ia juga gak punya fasilitas latihan yang memadai, tak perlu repot-repot.
Tapi, ia menolak menganggap duelnya dengan Apollo Creed nanti sebatas duel hiburan belaka. Rocky latihan dengan sangat gigih dan disiplin terlepas dari keterbatasan yang ia punya.
Ia sangat paham dirinya akan jadi badut di atas ring kalau gak melakukan persiapan sama sekali.
Hanya kerja keras modalnya, untuk perbesar chance-nya kasih perlawanan sengit ke sang juara dunia kelas berat Apollo Creed.
Lo belajar disini, sukses itu kebanyakan adalah produk dari kerja keras dan ketekunan.
Logikanya, untuk mencapai hasil yang extraordinary lo perlu melakukan proses yang extraordinary juga. Sesederhana itu
3. Networking
Poin yang terakhir ini sebenarnya gak sepenuhnya bisa disebut sebagai suatu watak, lebih ke situasi yang turut mendukung kesuksesan Rocky kasih perlawanan sengit ke Apollo Creed — yaitu berhubungan dengan relasinya dengan orang lain, atau, networking.
Rocky gak egois, ia bukan tipikal anti-sosial yang merasa mampu melakukan semuanya sendiri. Ia tetap butuh kehadiran seorang mentor, dan tokoh Mickey mengisi peran ini.
Di awal cerita Mickey menolak Rocky untuk lanjut latihan di gym-nya karena ia menanggap Rocky menyia-nyiakan potensinya.
Sempat ribut mereka, tapi ketika Rocky menerima tantangan Apollo Creed, Mickey secara sukarela menawarkan diri jadi pelatih.
Awalnya Rocky menolak sekaligus menumpahkan emosinya ke Mickey, tapi ia sadar ia tetap butuh instruksi seorang mentor yang punya jam terbang.

Akhirnya mereka kerja bareng dan membantu Rocky menjadi makin tangguh dan ready secara fisik.
Selain mentor, ia juga menjalin hubungan romansa dengan seorang cewek bernama Adrian.
Cewek idaman yang tulus memberikan kasih sayang ke dirinya, yang secara sempurna memainkan role feminin untuk dukung pasangannya yang lagi dalam suatu misi maskulin.
Nah, pelajaran yang bisa lo ambil dari poin terkahir ini sudah jelas.
Lo harus lebih mindful lagi sama orang-orang sekeliling lo.
Selalu renungi dan tanya sama sendiri, apakah mereka membantu lo tumbuh atau sebaliknya.
Apakah mereka punya nilai hidup yang selaras dengan lo atau bertentangan.
Kalau gak cocok, lo selalu punya opsi untuk quit.